Penyebab jerawat sebetulnya masih belum diketahui secara pasti, tetapi para dokter memiliki keyakinan bahwa jerawat adalah hasil dari banyak faktor yang saling terkait. Salah satu faktor penting tersebut adalah meningkatnya jumlah hormon. Hormon-hormon ini, yang dinamakan androgen (hormon seks pada pria), jumlahnya meningkat pada anak-anak lelaki maupun perempuan selama masa puber mereka dan bisa menyebabkan kelenjar keringat membesar serta memproduksi lebih banyak keringat. Faktor lainnya adalah keturunan atau genetik. Para peneliti juga yakin bahwa kecenderungan banyaknya jerawat dapat ‘diwariskan’ dari orang tua. Sebagai contoh, hasil studi telah memperlihatkan bahwa banyak anak lelaki berjerawat pada usia sekolah memiliki keluarga dengan riwayat yang sama.
Beberapa faktor lain dapat berperan dalam munculnya jerawat atau membuatnya lebih buruk. Naiknya tingkat hormon pada anak-anak perempuan dan wanita dewasa bisa menimbulkan rasa panas pada jerawat selama 2 hingga 7 hari sebelum periode menstruasi. Perubahan yang terjadi pada hormon yang berhubungan dengan kehamilan, atau ketika mulai mengkonsumsi pil anti hamil, atau saat menghentikannya, juga bisa menimbulkan jerawat. Stres, khususnya kadar emosional yang parah atau berlarut-larut, dapat juga memperburuk kelainan ini.
Di samping itu, beberapa obat, termasuk androgen, lithium, dan obat-obat tidur juga diketahui dapat menimbulkan jerawat. Kosmetik-kosmetik berminyak bisa mempengaruhi sel-sel pada folikel dan membuatnya saling menempel. Gesekan pada kulit yang disebabkan oleh himpitan atau gosokan atau tekanan dari helm motor, tas punggung, atau kerah baju yang ketat juga dapat berperan dalam memperparah jerawat. Juga, lingkungan yang menyebabkan iritasi (seperti polusi dan kelembaban tinggi), pijatan atau sentuhan pada jerawat, dan gosokan tangan yang keras pada kulit dapat memperburuk jerawat.
Itulah beberapa faktor utama yang diduga pemicu munculnya jerawat.
Sekarang mari kita kupas faktor-faktor tersebut secara lebih mendalam.
Salah satu yang diketahui dapat menimbulkan jerawat adalah infeksi akibat bakteri. Bakteri Propionibacterium acnes (P. acnes) termasuk spesies bakteri anaerob, dengan kata lain hidupnya tidak memerlukan atau hanya memerlukan sedikit sekali udara. Bakteri ini disimpulkan sebagai penyebab timbulnya jerawat.
Namun di sana juga masih terdapat sub-species sejenis P.Acnes yang berhubungan dengan masalah kesehatan kulit dan jerawat. Belum dapat disimpulkan apakah salah satu dari varian yang tak diinginkan ini berkembang dalam kondisi yang berlawanan, apakah didapat dari parasit luar, atau apakah tergantung pada pasiennya sendiri. Varian-varian ini memiliki kemampuan untuk mengubah, memperpanjang, atau beradaptasi dengan siklus abnormal dari peradangan, produksi keringat, dan aktivitas pelepasan dari pori-pori jerawat.
Menurut beberapa penelitian, ketahanan P.acnes terhadap zat-zat antibiotik yang banyak digunakan saat ini telah semakin meningkat.
Jerawat, dalam kondisinya yang paling alami dapat dianggap sebagai penyakit hormonal. Hormon-hormon bertanggung jawab atas kematangan pada kelenjar-kelenjar minyak di kulit kita. Inilah sebabnya mengapa anak-anak tidak - atau jarang - berjerawat.
Ada beberapa saat di dalam hidup kita ketika hormon-hormon bisa menjadi tidak seimbang dan mengakibatkan bencana, termasuk saat pubertas, kehamilan, dan menopause. Lebih spesifik lagi, jerawat dapat dipercepat dengan androgen, hormon-hormon jantan yang terdapat pada pria dan wanita. Kelebihan minyak yang dihasilkan oleh hormon-hormon ini bisa menjadi alat bantu dalam menyumbat kantung-kantung rambut di mana bakteri dapat tumbuh dan menimbulkan bintil dan bercak jerawat.
Jerawat hormonal terlihat paling banyak pada wanita yang disebabkan oleh siklus alami yang dilaluinya, seperti menstruasi, kehamilan dan menopause. Sehingga para dokter terkadang memberikan resep pil anti hamil berdosis rendah dan/atau penghambat reseptor androgen untuk mengurangi bercak dan menjaga agar hormon androgen tetap stabil.
Bahkan pada sebagian orang dewasa, naik-turunnya tingkat hormon dapat menyebabkan jerawat bermunculan. Androgen adalah hormon-hormon yang dilepaskan oleh kelenjar adrenal, ovarium, dan testis. Hormon-hormon ini memicu aktivitas kelenjar keringat, dan menambah produksi minyak serta membuat komedo atau jerawat cenderung lebih mudah terbentuk.
Jerawat yang muncul pada orang dewasa paling banyak menyerang wanita. Fluktuasi hormon yang tajam sering juga disebabkan oleh penggunaan obat anti hamil tertentu. Para wanita bisa melihat jerawat mereka tiba-tiba muncul atau menjadi lebih parah selama masa-masa ini di dalam hidup mereka.
Kaum pria sendiri bukan berarti kebal terhadap jerawat. Jerawat pada pria dewasa biasanya dimulai saat remaja dan tetap bertahan hingga mereka dewasa. Kaum pria cenderung memiliki jerawat dalam tingkat yang lebih parah dan lebih tahan lama dibanding kaum wanita karena tingginya tingkat testosteron di dalam tubuh mereka Walaupun begitu, jarang terjadi munculnya jerawat pada pria yang mampu bertahan hingga 10 tahun atau lebih, jika dibiarkan.
Jika Anda wanita dan tiba-tiba terserang jerawat saat dewasa, Anda mungkin perlu memeriksa perlengkapan kosmetik yang Anda gunakan, termasuk pembersih dan pelembab kulit, dan produk-produk perawatan rambut. Beberapa produk tertentu, terutama yang berbahan dasar minyak, bisa menyumbat pori-pori dan menimbulkan dampak di dalam folikel. Dokter ahli kulit (dermatolog) mungkin menyarankan Anda untuk menghindari produk-produk yang mengandung minyak, dan menyarankan Anda untuk menggunakan produk-produk yang berlabel "Noncomedogenic". Namun demikian, Anda tetap harus berhati-hati sebab produk-produk noncomedogenic juga bisa memicu reaksi jerawat pada orang dengan kulit sensitif.
Berbagai kosmetik, karena campuran bahan kimia di dalamnya, memiliki kaitan langsung terhadap timbulnya jerawat. Bahkan faktanya, jerawat kosmetika, atau jerawat yang disebabkan oleh produk kosmetik, adalah bentuk jerawat ringan yang umum. Jerawat jenis ini dipicu oleh faktor-faktor tropis dan bukan karena proses rumit yang terjadi di dalam tubuh. Bahkan bagi mereka yang diduga tidak akan terkena jerawat kadang-kadang juga bisa terserang karena penggunaan produk kosmetik.
Karena munculnya disebabkan oleh zat-zat kimia dari luar, maka jerawat kosmetik relatif mudah untuk dihilangkan. Dengan menghentikan penggunaan kosmetik yang memicu munculnya jerawat, maka jerawat akan hilang dengan sendirinya.
Jerawat kosmetik memiliki bentuk berupa tonjolan kecil, gatal dan berwana merah muda pada pipi, dagu, serta kening. Jerawat ini muncul dalam periode beberapa minggu atau bulan dan bisa jadi mampu bertahan untuk waktu yang lama. Para penderita jerawat seharusnya sebisa mungkin menghindari penggunaan kosmetik. Hasil dari berbagai studi memperlihatkan bahwa makeup boleh jadi tidak menyebabkan timbulnya jerawat yang sebenarnya, tetapi dapat memperparah jerawat yang sudah ada.
Dengan semakin meningkatnya penggunaan makeup sebagai bagian rutinitas setiap hari oleh banyak wanita, maka terjadinya kelainan kulit seperti jerawat semakin meningkat pula. Jerawat yang disebabkan oleh penggunaan produk kosmetik dapat dikenali dengan adanya kumpulan-kumpulan komedo putih yang kecil pada pipi, kening, dan dagu. Jerawat kosmetik tidak meninggalkan parut tetapi terlihat sama tidak bagusnya seperti jenis jerawat lain.
Jerawat kosmetik memang berbeda dengan jenis jerawat lainnya, karena pada kondisi ini papula dan pustula (bintil bernanah) muncul dahulu dan setelah itu baru komedo. Sayangnya, banyak orang tidak sadar akan hubungan "aksi dan reaksi" antara jerawat dan kosmetik ini, dan berujung pada memburuknya infeksi akibat penggunaan kosmetik yang lebih banyak untuk menyembunyikan jerawat.
Beberapa produk perawatan kulit dan rambut bisa mengundang timbulnya komedo, atau bentuk permulaan dari jerawat. Kemampuan untuk mengundang jerawat ini disebut "acnegenicity". Kemampuan mengundang timbulnya jerawat ini merujuk pada sifat comedogenicity – yaitu kemampuan mengundang komedo-putih dan hitam, papula dan rangkaian pustula.
Sebagian besar produk kosmetik mencantumkan label “telah diuji atas acnegenicity dan merupakan noncomedogenic”, namun bagi orang-orang yang terserang jerawat tetap harus waspada dalam menggunakan produk-produk kosmetik ini. Efek yang merusak bagi jerawat bisa didatangkan oleh adanya minyak yang berlebih pada bahan kosmetik. Adanya keyakinan bahwa keringat bisa bermanfaat bagi kulit telah menjadi alasan sebagian besar pabrik kosmetik untuk memperbanyak zat ini pada produk mereka. Untuk keperluan tersebut, asam stearic dan mysristate telah banyak digunakan dalam pembuatan kosmetik, dan tahukah Anda bahwa zat-zat kimia ini bahkan bisa lebih berpotensial menimbulkan jerawat daripada keringat alami.
Dewasa ini, banyak produk kosmetik juga menggunakan slogan "bebas minyak". Walaupun dalam pandangan hukum dibenarkan, hal ini tidaklah otomatis membuat produk tersebut aman bagi kulit yang cenderung berjerawat, karena zat minyak yang digunakan adalah berbahan dasar sintetis dan jauh lebih berbahaya daripada sekedar kelebihan keringat yang ditemukan pada kulit yang menyumbat pori-pori!
Beberapa kondisi medis tertentu, seperti penyakit policystic ovary dapat memicu timbulnya jerawat pada orang dewasa. Jika Anda mengalami gejala-gejala lain seperti meningkatnya pertumbuhan bulu/rambut, berat badan, dan lain-lain selain timbulnya jerawat, Anda seharusnya menemui dokter.
Di samping itu, ada sejumlah kasus di mana jerawat disebabkan oleh obat-obatan. Walaupun demikian, kasus-kasus jerawat ini jumlahnya terbatas. Jika Anda berhenti menggunakan obat tersebut maka jerawat akan hilang secara bertahap. Penggunaan steroid, obat-obat tertentu untuk mencegah kehamilan, terapi hormon dan pengobatan lainnya dapat pula menyebabkan jerawat. Anda pun disarankan untuk menemui dokter jika yakin kalau pengobatan yang diresepkan ternyata memicu atau memperparah jerawat Anda.
Bagaimana jika Anda perlu mengonsumsi obat-obatan ini untuk jangka waktu yang lebih lama? Bagaimana jika obat tersebut adalah obat resep yang perlu Anda minum sepanjang hidup Anda? Bagaimana jika Anda memiliki reaksi alergi terhadap obat tersebut? Apa yang akan Anda lakukan? Pada kasus ini, Anda perlu menyembuhkan lesi/jerawat atau radang seperti halnya Anda menyembuhkan bentuk jerawat lainnya, apapun penyebabnya.
Inilah kenyataan bahwa orang-orang memiliki beragam reaksi kulit terhadap sesuatu, termasuk pengobatan. Apa yang mungkin menjadi ancaman alergi bagi seseorang bisa jadi merupakan obat penyembuh bagi orang lain. Dengan demikian, kelenjar-kelenjar minyak pada orang-orang bereaksi secara berbeda terhadap obat-obatan.
Ada berberapa jenis obat yang mungkin menyebabkan berlebihnya aktivitas kelenjar sehingga membuat produksi keringat lebih banyak. Sayangnya, hampir semua jerawat - termasuk karena obat - bersifat krusial bagi kebaikan Anda. Sebaliknya Anda pun mungkin tidak bisa sepenuhnya menghindar dari obat-obatan. Bagaimanapun, Anda tentunya dapat berusaha menemukan cara untuk meminimalkan efek negatif pada kulit Anda.
Apa saja obat-obatan yang dapat menyebabkan jerawat?
Anda mungkin perlu memperhatikan jenis obat-obatan di bawah ini, dengan harapan bahwa Anda akan menemukan kejelasan atas jerawat yang tidak pernah menyingkir selama ini. Tentu saja, petunjuk yang terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter atau dokter spesialis kulit. Dan, jangan pernah Anda menomorduakan kesehatan dari penampilan wajah Anda.
- Anticonvulsants. Anda akan diresepkan ini jika memiliki epilepsi atau serangan lain yang sejenis. Sebagian besar pengobatan dalam kelompok ini mencantumkan jerawat sebagai efek samping yang paling umum.
- Corticosteroids. Pada dasarnya zat-zat ini adalah hormon buatan. Jika digunakan dengan benar, mereka adalah obat yang bagus untuk mengobati gatal-gatal dan eksim. Tetapi karena merupakan hormon-hormon "buatan", mereka juga dapat menimbulkan jerawat. Ingat, hormon-hormon manusialah yang sering bertanggung jawab atas timbulnya jerawat.
- · Disulfuram (atau Antabuse). Diresepkan untuk membantu pasien penderita kecanduan alkohol kronis yang ingin tetap berada pada kondisi yang tidak mabuk. Saat bercampur dengan alkohol, obat ini menimbulkan reaksi tubuh yang tidak nyaman, dengan tujuan untuk menghambat hasrat meminum alkohol lagi setelahnya. Obat ini juga dikenal dapat memicu jerawat pada beberapa orang ketika digunakan secara intens.
- · Immuran. Seperti halnya zat immunosuppressant lainnya, Immuran digunakan untuk menekan sistem kekebalan tubuh bagi mereka yang akan menerima transplantasi organ, sehingga membantu mencegah reaksi penolakan pada tubuh. Efek sampingnya, obat ini juga dapat menekan kemampuan alami tubuh untuk memerangi bakteri yang menimbulkan jerawat.
- INH (Isoniazid) digunakan khusus untuk mengobati TBC. Penyakit TBC telah mengalami peningkatan dalam jumlah besar pada akhir 1980an, walau telah cukup berhasil diberantas. Kini TBC umumnya menyerang populasi tuna wisma dan pasien penderita AIDS. Obat ini memiliki efek samping timbulnya jerawat.
- Quinine digunakan sebagai obat resep untuk pencegahan – atau pengobatan – bagi penderita malaria. Jika Anda bepergian ke belahan dunia lain di mana terdapat resiko terjangkit malaria, pastikan untuk meminta solusi alternatif pada dokter. Anda mungkin mengalami timbulnya jerawat setelah penggunaan quinine, meskipun tidak semua orang bereaksi seperti itu.
- Pengobatan gondok. Beberapa obat untuk penyakit gondok (seperti Thiourea dan Thiouracil) dikenal dapat memicu jerawat. Pengobatan-pengobatan ini digunakan untuk memicu aktivitas kelenjar gondok jika Anda memiliki fungsi tiroid yang lemah. Yodium dalam jumlah banyak dapat membantu menata kembali fungsi tiroid tetapi obat ini juga dapat menyebabkan timbulnya jerawat.
- · Barbiturates. Ini adalah jenis obat-obatan yang menimbulkan kecanduan. Obat ini sering diresepkan sebagai obat penenang. Para dokter sangat tidak dianjurkan memberikan resep obat ini karena cenderung menyebabkan masalah kecanduan. Namun bagaimanapun obat ini masih efektif dalam mengobati kegelisahan, kerisauan dan stres. Sayangnya, obat ini juga dapat menimbulkan jerawat.
- Lithium. Obat ini adalah penyeimbang emosi yang diresepkan bagi orang-orang yang menderita depresi atau gangguan bipolar. Obat ini membantu menenangkan syaraf-syaraf dan menata kembali komunikasi di antara sinapsis pada otak. Sayangnya, sebagai akibat atas sehatnya kondisi mental, Anda mungkin menderita timbulnya jerawat. Seringkali, orang yang pertama kali mengonsumsi lithium akan berjerawat pada punggung atau dada. Untuk menghindari masalah ini, Anda dapat meminta pengobatan alternatif kepada dokter untuk depresi atau gangguan bipolar, atau Anda mencari pengobatan jerawat yang cocok dengan lithium.
- · Anabolic-Androgenic Steroids. Anda mungkin pernah mendengar tentang obat-obatan ini yang berhubungan dengan pembentukan badan dan olah raga. Para atlet mengunakannya sebagai obat untuk meningkatkan kemampuan. Obat-obatan ini telah menimbulkan kerusakan yang parah, di mana ada banyak penyalahgunaan atas obat-obatan ini. Sayangnya juga, orang-orang menderita jerawat sebagai akibat dari penggunaannya. Pada pengguna pria, jerawat biasanya terlihat pada punggung, dada, dan bahu, tetapi jarang pada wajah. Di lain pihak, wanita cenderung mengalami sebaliknya. Jerawat lebih banyak muncul pada wajah dibandingkan punggung atau dada.
- Dehydroepiandrosterone atau DHEA. Obat ini adalah hormon anti penuaan. Juga merupakan salah satu jenis hormon steroid. DHEA oleh tubuh diubah menjadi testosterone. Sebagai efek sampingnya, tubuh menghasilkan lebih banyak bulu. Sehingga hal ini juga cenderung menyebabkan lebih banyak pori-pori yang tersumbat yang pada akhirnya berujung pada jerawat.
Seperti halnya warna mata dan bentuk hidung, agaknya jerawat juga diturunkan dari orang tua. Jadi jika ibu atau ayah Anda (atau keduanya) memiliki jerawat, besar kemungkinan kalau Anda pun akan memilikinya. Dan jika lebih banyak anggota keluarga yang memiliki jerawat, lebih besar pula kemungkinan Anda untuk memiliki atau menyimpan masalah yang sama.
Juga, orang-orang dewasa dengan kulit berminyak lebih cenderung memiliki jerawat. Jenis kulit jelas diturunkan dari orang tua ke anak. Jika keluarga Anda memiliki riwayat jerawat yang kuat, jerawat Anda mungkin lebih sulit diobati. Tentu saja, ini bukan berarti bahwa Anda tidak dapat menemukan pengobatan yang efektif atau mendapatkan hasil yang bagus, tetapi hal ini merupakan sesuatu yang perlu diwaspadai.
Berjerawat atau tidaknya orang tua, kelihatannya menentukan peluang apakah Anda akan memiliki masalah kelainan kulit ini atau tidak. Penelitian menunjukkan bahwa peluang timbulnya jerawat akan meningkat jika sang ibu pernah memiliki jerawat pada satu waktu dalam hidupnya. Ini berarti bahwa jerawat dapat diturunkan melalui kromosom X. Meskipun demikian Anda tidak perlu memandang album lama ibu Anda sebagai sesuatu yang menakutkan. Bahkan dengan adanya faktor riwayat keluarga sekalipun, belum tentu Anda akan mengalaminya juga, atau mungkin Anda tidak akan memiliki bintil-bintil sebanyak yang Anda bayangkan. Bahkan sebaliknya, banyak orang berjerawat yang datang dari orang tua berkulit bersih tanpa jerawat. Hal ini karena ada begitu banyak faktor lain yang berperan atas timbulnya jerawat selain riwayat keluarga.
Kalaupun Anda berjerawat dan besar keyakinan kalau itu berkaitan dengan riwayat keluarga, Anda tidak perlu berkecil hati. Di sana tersedia segudang pilihan untuk pengobatan. Mengunjungi dokter ahli kulit dapat membantu menemukan solusi yang efektif.
(Dikutip dari buku: Jurus Ampuh Menaklukkan Jerawat, Rina Nurmalina, Elex Media Komputindo)
Apakah artikel ini membantu Anda? Jika ya, mohon keikhlasannya untuk mengklik iklan di bawah ini :)